Meretas Dakwah, Melintas Batas "Cerita Dakwah Da’I Ambassador Dompet Dhuafa di Filipina"

Dakwah, |

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date_create(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone.

Filename: page_dinamis_blog/section_2.php

Line Number: 10

Backtrace:

File: /home2/singgalangdompet/public_html/application/views/frontend/kabar/pages/page_dinamis_blog/section_2.php
Line: 10
Function: date_create

File: /home2/singgalangdompet/public_html/application/views/frontend/kabar/page_dinamis_blog.php
Line: 2
Function: view

File: /home2/singgalangdompet/public_html/application/views/frontend/kabar/template.php
Line: 91
Function: view

File: /home2/singgalangdompet/public_html/application/controllers/Post_dinamis.php
Line: 57
Function: view

File: /home2/singgalangdompet/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Fri 05/2019 13:29:33
Dompet Dhuafa Post Image
Share

Oleh: Ust. Muhammad Adul Hafizh, SE.,MM.

FILIPINA- Sebelum menginjakkan kaki di Filipina, saya sempat membayangkan bahwa sebagai negara "Lumbung padi ASEAN" Filipina akan menyuguhkan hamparan sawah yang luas dan ladang yang hijau. Namun selama perjalanan dari bandara Nino Aquino International Airport (NAIA) menuju Manila Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), ternyata Filipina (Makati City) adalah kota maju dengan kesibukan yang luar biasa.

Banyak gedung pencakar langit, jalan layang, pusat perbelanjaan, hingga terowongan bawah. Tanah untuk pejalan kaki. Saya salah 100%, selama berada di Filipina, KBRI Manila menjadi ladang dakwah saya. Sampai nanti Ramadhan berakhir.

Tepatnya di Masjid At-Taqwa KBRI Manila. Walaupun mayoritas staff dan pegawai di KBRI Manila adalah warga Indonesia dan muslim, ternyata di Manila (Makati City), muslim adalah minoritas. Berbeda dengan Filipina Selatan yang muslimnya ramai. Di sini sangat jarang sekali melihat perempuan berjilbab di keramaian. Apalagi mendengar suara azan.

Namun demikian, untungnya warga Manila tidak alergi dengan islam. Bahkan ada 3 atau 4 masjid yang menghiasi sudut-sudut kota di pemukiman warga muslim. Seperti Golden Mosque dan Blue Mosque yang bersejarah. Di Makati City, masjid terbilang sangat jarang. Tidak heran masjid At-Taqwa di lingkungan KBRI menjadi masjid bagi warga setempat.

Sehingga jemaahnya pun macam-macam. Ada yang dari Turki, India,Pakistan, Mesir, bahkan Prancis. Minoritas nan majemuk. Menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Da’i Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa) yang ditugaskan di Filipina.

Salah satunya adalah bahasa. Dari 16 negara tujuan dakwah Dompet Dhuafa di tahun 1440 H ini, hanya dua negara yang da’inya dituntut untuk berbahasa inggris, yaitu Filipina dan New Zealand.  Itu pula yang menjadi daya tarik bagi jemaah luar KBRI tersebut. Mereka bisa memahami ceramah yang disampaikan sebelum tarawih. Sedangkan di masjid yang lainnya, Kedutaan Arab Saudi misalnya, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa arab.

Masjid KBRI menjadi masjid favorit bagi jemaah dari berbagai negara. Satu-satunya masjid yang mengadakan buka puasa bersama gratis, adalah di masjid KBRI. Lengkap dengan makan malam dan cemilannya. Dibandingkan dengan masjid kedutaan lain, Masjid KBRI Manila memberikan kesempatan yang luas bagi siapa saja yang ingin ikut berbuka dan beribadah hingga tarawih. Sedangkan masjid di kedutaan lainnya (Malaysia, Arab Saudi, Mesir, dll) tidak ada acara buka puasa bersama.

Mereka bahkan menerapkan pemeriksaan yang ketat terhadap setiap jemaah yang akan masuk ke kedutaan. Selain alasan keamanan, tragedi di New Zealand beberapa waktu lalu juga menjadi pertimbangan sehingga mereka tidak sembarangan dalam menerima jemaah. Selain itu, yang membuat Masjid KBRI Manila menjadi favorit adalah kebiasaan qiyamullail di sepuluh malam terakhir. Ada juga jemaah negara lain yang senang tarawih-an ke KBRI Indonesia karena sambutan yang hangat dan ramah.

Selama berdakwah di Filipina, banyak penyesuaian yang harus saya lakukan. Berlapang dada terhadap perbedaan fiqih dan madzhab juga tidak kalah penting. Motivasi terbesar saya dalam berdakwah justru datang dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di sini. Walaupun minoritas, mereka tetap semangat belajar agama. Tidak mengeluh dalam melayani jemaah antar negara ketika berbuka puasa. Ada jemaah ibu-ibu para istri diplomat yang semangat untuk ikut pengajian setiap pagi, bahkan ada beberapa warga Filipina yang mendatangi saya untuk kemudian diajar mengaji.